Laman

Selasa, 20 Januari 2015

Memburu Sejuta Sate ke Lokasinya Langsung

Sate termasuk salah satu kuliner khas Indonesia. Jenisnya beragam ada sate dari Sumatera, Jawa hingga Nusa Tenggara. Bahan utamanya juga bermacam, ada daging ayam, sapi, kambing, kerbau, kuda, kelinci, biawak, ikan, dan juga kerang. Nama satenya juga beda. Olahan dan bumbunya juga tak sama. Yang jelas, masing-masing punya citra rasa khas dan tentunya menggoda selera. 

Menyebut aneka sate di negeri ini, jelas Sate Madura masuk deretan teratas sate yang amat tersohor. Sate khas pulau garam, Madura ini biasanya terbuat dari daging ayam dan kambing. 

Sate Madura mudah ditemukan hampir di semua kota besar di Tanah Air seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan lainnya. Bumbunya, campuran kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Memanggangnya dengan arang batok kelapa.

Di Jakarta, ada Sate Madura yang ramai pengunjungnya antara lain Kedai Sate Khas Madura Haji Yanto di depan toko tekstil Mumbai, Pasar Mayestik,Kebayoran baru, Jakarta Selatan. Masih di wilayah yang sama, ada Sate Ayam dan Kambing Pak Muri yang dikenal juga dengan sebutan Sate Pertamina atau Sate RSPP, maklum lokasinya berada di Jalan Kyai Maja, seberang RS Pertamina.

Diurutan kedua, diduduki Sate Padang. Salah satunya yang paling tenar Sate Mak Syukur (SMS) di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, tepatnya di Jalan Sutan Syahrir Silaing Bawah. Saking ngetop-nya, sampai Presiden SBY beserta ibu Ani pernah menyantapnya di tempat ini.

Kalau Anda mendaki Gunung Marapi ataupun Singgalang, sebaikya mampir ke SMS untuk menyempurnakan pendakian Anda di Sumbar.

Selain di Sumbar, Sate Padang Mak Syukur juga ada di Jakarta, antara lain di Pasar Santa, Jakarta Selatan, Pasar Tanah Abang Blok A lantai 8, Jakarta Pusat, Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan Blok M Square, Jakarta Selatan. Kalau Sate Madura atau kebanyakan sate lain bumbunya menggunakan kacang dan gula, beda dengan Sate Padang yang memakai bumbu kuah kuning kental yang gurih.

Sate Mak Syukur terbuat dari daging rusuk dan punuk sapi yang dimasak sampai empuk dengan kuah kuning kental dengan rasa yang tidak terlalu pedas. Ada juga Sate Mak Syukur yang terbuat dari usus, jantung, dan lidah sapi. Bagian atasnya ditaburi bawang goreng. Teman bersantapnya potongan ketupat bukan lontong sebagaimana Sate Madura.

Sate Maranggi merupakan Sate Khas Jawa barat. Ada yang menyebutnya berasal dari Purwakarta, ada juga yang mengklaim dari Cianjur. Sate satu ini terbuat dari daging kambing atau daging sapi. Yang membedakannya dengan sate lain, bumbunya dari kecap dicampur sambal cabai hijau ditambah sedikit cuka lahang atau cuka yang terbuat dari tebu dan dilengkapi dengan irisan bawang dan tomat segar. Semua itu membuahkan cita rasa paduan manis, asam, dan pedas. Biasanya sate ini dihidang dengan ketan bakar, sambal oncom atau nasi timbel.

Sate ini mudah ditemukan hampir di setiap sudut Purwakarta, antara lain Sate Maranggi Pak Jaya di Padasuka dan Situ Wanayasa yang berada di jalur wisata Purwakarta–Wanayasa–Jalan Cagak (Subang) – Bandung. Di Jakarta antara lain ada di Sate Maranggi Ibu Yayah dekat Kompleks LMK PLN Duren Tiga Jalan Laboratorium, Jakarta Timur.

Sepulang Anda memanjat tebing-tebing di Gunung Parang, jangan lewatkan mampir ke salah satu pedagang Sate Maranggi di Purwakarta.

Sate Bulayak khas Lombok, NTB terbuat dari daging sapi, ayam ataupun jeroaan yang dilumuri dengan bumbu khas Lombok. Bumbunya dari kacang tanah sangrai tumbuk yang direbus bersama santan serta beberapa bumbu dapur lainnya. Rasanya pedas dan gurih mirip seperti bumbu kari.

Yang membedakan, teman makannya bukan ketupat atu lontong melainkan bulayak, semacam lepet kalau di Jakarta, yakni lontong yang dikemas kecil memanjang dibungkus deng daun aren, nyiur ataupun daun enau yang dililit membentuk spiral, ketika membukanya akan bergerak memutar. Bulayak memiliki rasa yang gurih dan bertekstur lembut. Cara menikmati bulayak ini dengan cara dicocol pada bumbu sate yang tersedia.  

Pedagang Sate Bulayak mudah dijumpai di kawasan kuliner di sepanjang Jalan Cendana atau jalan ke arah Bandara Selaparang, bandara lama. Selain itu di daerah wisata Suranadi, Narmada, dan di sekitar Pantai Senggigi. 

Sepulang dari menuruni Gunung Rinjani, sempatkan waktu mampir di salah satu pedagang Sate Bulayak di Lombok. Kalau Anda menikmatinya di Pantai Senggigi, kelebihannya Anda bisa sambil menikmati pesona pantai landai berpasir halus serta pemandangan indah berikut sunset-nya.

Sate Karang di bekas pusat kerajaan Mataram, Kotagede, Yogyakarta. Antara lain di Lapangan Karang Kotagede, Jalan Nyi Pembayun Kotagede. Yang unik, sate ini dimakan dengan lontong berkuah sayur lodeh yang encer dan sambal kacang yang kental dan manis.

Sambalnya ada tiga macam, sambal kacang, sambal kecap, sambal kocor yang terbuat dari daun jeruk, garam, gula merah, bawang merah, dan ketumbar. Teman minumnya wedang ronde atau teh poci dengan gula batu yang juga mangkal di sekeliling lapangan. Harga seporsi berisi 10 tusuk sate ini Rp 20.000. Lontong sayurnya Rp 5.000.

Sate Klathak disebut juga Sate Bantul. Hampir di sepanjang Kota Bantul, Yogyakarta banyak warung makan Sate Klathak. Salah satunya di Jalan Imogiri Timur KM 10, Timur stadion Sultan Agung. Namanya Sate Klathak Pak Pong.

Di Pasar Jejeran, Bantul juga ada Sate Klathak Pak Bari. Keunikannya batang tusuknya yang terbuat dari jeruji sepeda, bukan bilahan bambu ataupun lidi. Sate ini juga disebut ‘Sate Uyah’ atau Sate Garam. Karena sate dari daging kambing ini hanya dibumbui garam. Ada pula yang ditambahkan bawang putih.

Meski bumbunya minimalis tapi rasanya makyus karena rasa daging kambingnya lebih mencuat di lidah, tidak banyak ditutupi rasa lain. Uniknya sekalipun miskin bumbu, tidak terasa hangus. Yang terasa justru gurih bercampur asin. Seporsi Sate Klatak Pak Bari berisi 2 tusuk sate. Setiap tusuk jeruji sepanjang 30 sentimeteran ini terdapat 6-7 potong daging.

Nah, kalau Anda mendaki gunung Merapi, jangan lupa mampir ke Kotagede untuk menikmati Sate Karang dan ke Bantul untuk mencicipi Sate Klathak.

Bawah Lima Bulan 
Sate Tegal, berbahan daging kambing atau domba muda yang dipotong-potong dadu. Adanya di Tegal, Salwi dan sekitarnya. Bumbunya dari bumbu sambal kecap yang terbuat dari kecap, cabe rawit, bawang merah, dan tomat.

Di daerah Guci, Lereng Gunung Slamet ada Sate Balibul singkatan dari bawah lima bulan. Artinya, kambing yang digunakan umurnya dibawah lima bulan yang masih sangat muda jadi daging empuk sekali. Biasanya teman bersantapnya dengan nasi putih dan minumannya teh poci dengan gula batu khas Tegal juga.

Penjual Sate Balibul ada tak jauh dari Objek Wisata Guci. Anda bisa menikmati sebelum atau sesudah menikmati objek tersebut. Atau setekah melakukan penndakian Gunung Slamet lewat Jalur Guci.

Sate Makassar, terbuat dari daging sapi atau daging kambing. Yang membedakannya bumbu dan kuahnya menggunakan kuah konro atau sop konro sebagai teman makan. Salah satu penjualnya di Resto Baji Minahasa, milik Daeng Jarung. Sate ini biasanya jadi sajian khusus lebaran bagi orang Makasar.

Sepulang dari Gunung Bawakaraeng ataupun Latimojong, luangkan waktu mampir ke pedagang Sate Makassar, nikmati sensasinya.

Sate Lilit dari Bali juga khas. Tusukannya menggunakan batang serai yang menambah sedap aromanya. Sate ini berbahan daging ikan laut yang dicincang halus dan dibumbui dan dililitkan ke batang serai. Sate ini sarat bumbu dan dicampur dengan parutan kelapa, rasanya gurih dengan aroma khas, yakni pedas, wangi, manis, dan gurih. Dan yang pasti sate ini sehat, karena terbuat dari ikan yann rendah lemak.

Di Bali sendiri, Sate Lilit mudah dijumpai di trotoar atau pinggiran jalan di Kota Denpasar. Salah satunya Sale Lilit ala Karangasem di pinggir Jalan Hayam Wuruk, di depan gang Jalan Drupadi, Denpasar. Selain itu Warung Merte Sari atau Warung Sate Lilit Pulau Bungin di Jalan Pulau Bungin, sekitar 300 meter setelah SPBU Pulau Bungin kalau dari arah Pulau Kawe - Simpang 6, Denpasar.

Usai mendaki Gunung Agung, jangan lupa mampir ke pedagang Sate Lilit, biar perjalanan Anda lebih sempurna selama di Pulau Para Dewa ini.

Di Jakarta Sate Lilit dapat dinikmati di Jalan Woltermonginsidi, seberang Pasar Swalayan Santa, Jaksel, di Jalan Agus Salim, Menteng, Jakpust, di Le Seminyak, Pacific Place Sudirman Jalan Jend Sudirman, Jakpus, dan di Ajengan, Jala Panglima Polim I, Jaksel. Ada lagi di Warung Bali Jalan Lebak Bulus Raya, Jaksel serta Pura Aditya Jaya di Jalan Daksinapati Raya, Rawamangun, Jaktim.

Sate Kerang Medan tepatnya Sate Kerang Istimewa Rahmat yang juga kerapdijadikan buah tangan oleh orang luar usai bertandang ke Medan. Tempatnya di Jalan PWS No.42, di sebelah Plaza Medan Fair Medan. Rasa satenya berbeda dengan sate kerang lainnya. Sate kerangnya tidak berpasir dengan bumbu resep tradisional sejak 1957.

Sate Kelinci, di daerah berudara sejuk, Batu Malang terdapat sejumlah penjual sate kelinci. Salah satunyanya Depot Sate Kelinci Batu yang berjarak sekitar 1 Km dari pusat Kota Wisata Batu, tepatnya di Jalan Patimura 106, Batu, Malang Utara. Paling enak menyantapnya pada malam hari, sambil menikm ati udara dingin khas Kota Batu.

Selain di Batu, Sate Kelinci juga dapat dinikmari di objek wisata Kaliurang Yogyakarta, Lembang, dan Sumedang.

Sate Biawak, sesuai namanya dari daging reptil biawak. Salah satu lokasi penjualnya ada di bantaran Sungai Cimanuk Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sate ini sangat digemari masyarakat pantau utara (Pantura), Kabupaten Indramayu. Daging satenya dipercaya dapat meningkatkan kebugaran dan vitalitas pria. Di tempat lain seperti di sepanjang Jalan Perjuangan arah Babelan, Bekasi juga ada yang menjualnya. Harga seporsinya Rp 25.000 berisi 10 tusuk.

Di Jakarta antara lain ada di Mangga Besar seberang RS Husada dan di Bandengan Utara, Jakarta Barat. Selain Sate Biawak, disini juga dijual sate ekstrim lainnya seperti Sate Buaya, Ular, dan Sate Monyet.

Sate Ikan Senapelan adalah sate ikan patin khas Pekanbaru, Riau. Sate ini pas dinikmati dengan bumbu yang sedikit pedas. Teman makannya potongan lotong dan acar ketimun. Tekstur daging ikan patin ini sangat lembut.

Sate Ikan Tenggiri Palembang, biarpun namanya sate tapi masakan ini tidak ditusuk seperti sate pada umumnya. Melainkan di bungkus dengan daun pisang bersama bahan dan bumbu yang lain kemudian dikukus. Anda bisa menikmatinya di tepian Sungai Musi, sambil melihat Jembatan Ampera.

Masih ada lagi ragam sate lainya seperti sate buah, sate usus, sate ampela hati, sate telur puyuh, sate ceker ayam, sate jeroan, sate bekicot, sate keong yang biasa di jual pedagang angkringan, antara lain Angkringan Lik Man di sebelah Utara Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Kalau tak suka daging, pilih saja Sate Jamur dan Sate Buah. Sate Jamur menjadi andalan menu  Dieng Kledung Pass Hotel & Resto di Wonosobo, Jawa Tengah. 

Menikmati sate jamur sini menawarkan sensasi mewah lantaran sambil menikmati pesona Gunung Sindoro tepat di belakang hotel ini.

Dengan keberagaman sate-nya, tak berlebihan rasanya kalau negeri ini berpredikat Negeri Sate. Bila Anda berkesempatan menikatinya di lokasinya langsung, jelas bakal membuahkan pengalaman berpetualang kuliner tak terlupakan.

Naskah & Foto: adji kembara (kokirimba@yahoo.com)

Captions:
1. Seporsi Sate Padang.
2. Sate Bulayak di Pantai Senggigi, Lombok, NTB.
3. Sate Balibul khas Guci, Tegal, Jateng.
4. Seporsi Sate Jamur khas Dieng Kledung Pass Hotel & Resto di Wososobo, Jateng. 

1 komentar:

  1. Banyak sekali jenis sate di nusantara ini yang ane sendiri belum tahu. terima kasih ya admin sudah berbagi info penting ini.

    BalasHapus