Laman

Minggu, 30 April 2017

Aneka Lauk Babacakan Khas Seba Baduy 2017, Sungguh Menggugah Selera


“Mas Adji ayo Babacakan di sini bareng-bareng,” begitu ajak Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya bersama suami tercinta di sebelah kanannya. “Ayo mas Adji disini aja, saya juga kebanyakan nih,” ajak Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwiata Nusantara, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti yang duduk di sebelah kiri Bupati Lebak.

Terus terang sebenarnya saya sudah kepingin sekali Babacakan (makan bersama) dengan mereka, apalagi di momen spesial dalam rangkaian Pesona Seba Baduy 2017, ditambah dengan aneka lauknya yang menggugah selera.

Ada ikan asin, tempe dan tahu goreng, ayam goreng, mie goreng, cah kangkung, kerupuk, dan aneka lalapan seperti daun salada, kacang panjang, mentimun, dan pete serta sambal. “Ayam gorengnya ayam kampung lho mas Adji,” ucap Iti.

Namun dari semua lauk itu, entah kenapa matanya saya justru terus melirik pete dan ikan asin. “Pete khas Lebak ini rada manis Mas Adji, cobain aja,” ujar Iti lagi.

Mendengar penjelasan Iti, terus terang selera makan saya semakin bergejolak. Jujur saja, sejak dulu pete memang menjadi salah satu dewa penyelamat selera makan saya selain ikan asin dan jengkol.

Ajakan Iti dan Esthy ditambah aneka menu Babacakan Jeung Urang Kanekes (orang Baduy) yang berjumlah sekitar 2.000 orang di halaman depan Pendopo Bupati Lebak, Kota Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (28/4) malam, membuat saya galau.

Di satu benar-benar ingin langsung makan bersama orang nomor satu di Lebak itu ditambah dengan Deputi Esthy. Tapi di sisi lain, peristiwa orang-orang penting itu ikut Babacakan merupakan momen spesial yang sayang kalau tidak diabadikan.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengabadikan mereka terlebih dulu dan juga ribuan urang Kanekes yang duduk rapih beralas terpal biru sambil menyantap Nasi Bungkus berisi nasi, ayam goreng, dan aneka lauk lainnya.

Selepas tuntas mengabadikan semuanya, saya pun memilih tempat untuk bersantap Babacakan itu.

Nasi dan semua lauknya ditaruh di atas jajaran daun pisang yang terlebih dulu sudah dibersihkan.

Lauk yang pertama yang saya sikat justru pete-nya, sampai Sony, Event Organizer (EO) heran. “Wah Mas Adji pete-nya dulu yang dimakan, bukan nasinya haha,” ujar Sony sambil tertawa.

Itu sengaja saya lakukan karena penasaran ingin membuktikan perkataan Iti. Ternyata benar pete-nya walau sudah tua tapi tetap berasa agak manis dan segar, sepertinya baru dipetik dari pohonnya.

Soalnya kalau saya makan nasi dan lauk lainnya baru kemudian pete-nya, takut rasa khas pete-nya tercampur.

Apalagi saat saya santap nasinya, ternyata bukan nasi putih biasa melainkan Nasi Liwet sejenis Nasi Uduk khas Betawi kalau di Jakarta. Heemmm.., nikmatnya luar biasa.

Meskipun aneka lauk khas Sunda dalam Babacakan bersama dengan ribuan orang Baduy malam itu begitu sederhana namun karena penyajiannya tidak biasa ditambah momennya langka, setahun sekali, entah kenapa rasa nikmatnya jadi berlipat-lipat.

Babacakan Jeung Urang Kanekes boleh dibilang menjadi salah satu mata acara andalan Seba Baduy yang digelar setiap tahun setelah masyarakat Baduy melaksanakan puasa 3 bulan atau Kawalu.

Daya tarik Babacakan begitu kuat, tak heran sejumlah awak media berebut mengabadikannya. Sejumlah wisatawan yang hadir pun tak mau ketinggalan turut memotret special moment tersebut dan kemudian turut makan bersama.

Lalu berapa biaya yang dikeluarkan Pemeritah Kabupaten (Pemkab) Lebak untuk menyiapkan Babacakan tersebut termasuk nasi bungkus untuk rombongan orang Baduy yang berjumlah sekitar 2.000 orang?

Berdasarkan kalkulasi Koki Rimba secara kasar, kalau saja nasi bungkus itu dihargai Rp 15.000 per bungkus, tinggal dikali 2.000 bungkus saja sudah Rp 30 juta, belum lagi air mineral serta Nasi Liwet dan aneka lauk yang ditempatkan di atas daun pisang.

Kemudian untuk sarapan esok paginya, sebelum pelepasan warga Baduy melanjutkan Seba Baduy berjalan kaki menuju Kabupaten Pandeglang. Jika ditotalkan untuk konsumsi (makan dan minum) saja, mungkin Pemkab Lebak harus mengucurkan anggaran sekitar Rp 100 juta.

Besar kecilnya dana itu tentu tak sebanding dengan jerih payah urang Kanekes yang sudah rela mengeluarkan tenaga dan waktu untuk berjalan puluhan bahkan ratusan kilometer dari kampung-kampungnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak serta memberikan hasil buminya seperti pisang tanduk, padi, gula aren, talas, dan lainnya untuk diserahkan ke Pemkab Lebak.

Hal yang sama pun mereka lakukan untuk Pemkab Pandeglang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.

Apa yang diupayakan urang Kanekes itu, tentu saja jauh lebih besar dan berat.

Lewat Seba Baduy mereka bahkan telah membuat nama Lebak, Pandeglang, dan Banten ikut terangkat ke tingkat nasional bahlan dunia karena diliput media massa yang semakin banyak jumlahnya dan juga pemuatan di media sosial (medsos).

Berdasarkan pengamatan langsung acara Babacakan Jeung Urang Kanekes dalam rangkaian Pesona Seba Baduy 2017 yang juga didukung Kemenpar, lewat Bidang Promosi Wisata Budaya, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, berjalan lancar dan berkesan.

Namun Koki Rimba menyarankan agar tahun depan saat Babacakan berlangsung sebaiknya ada perwakilan dari Baduy Dalam (Tangtu) dan Baduy Luar (Panamping) terutama para jaro, puun, dan tokoh masyarakat dari masing-masing kampungnya untuk ikut makan bersama dengan Bupati Lebak dan tamu undangan dengan Nasi Liwet dan aneka lauk khas Sunda yang ditempatkan di atas daun pisang.

Bila itu terwujud, tentu Babacakan itu akan membuahkan suasana yang lebih akrab, mengesankan, dan lebih menarik.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar